Terisak kembali. Ya karna kau kembali ungkit hinanya aku.
Sebegitu tak pantas kah?
Sabtu, 21 Februari 2015
Rabu, 11 Februari 2015
Nak... Maafkan Ibu.
Selasa, 10 Februari 2015
Minggu, 08 Februari 2015
Hobby
Tak suka dengan kerjaan kamu... begitu pesan singkat kamu. Tenang, saya sudah tahu, tapi juga kamu harus tahu dengan bencinya kamu maka kamu harus kerja lebih keras nantinya. Dan saya akan ubah kerjaan saya tapi tak mengubah hobby saya untuk menulis, hanya mungkin tak lagi menulis untuk oranglain tapi menulis untuk KITA. #celoteh
Sabtu, 07 Februari 2015
FUCK YOU SASTRA
Tolong jangan membuat saya kembali berlaku kejam.
Tolong jangan memaksa saya untuk jengah dengan keadaan.
Sekiranya kamu ingat... sayalah yang ada dalam kesakitan.
Jika tak hargai saya setidaknya jangan menabur luka berlebihan.
Saya tak punyai obat penawarnya tapi saya punya banyak racun yang bisa membunuh saya dan rasa bahagia kamu... selamanya.
Rabu, 04 Februari 2015
HAMPA
Aku kembali menangis lagi, Tuhan.
Aku kembali melemah lagi.
Urat syarafku menegang dalam ketakutan.
Harapanku menipis dalam kehampaan.
Aku butuh dia... aku butuh dia dalam tulisan masa depanku.
Aku butuh dia.... dia yang diaampingku dalam manisnya pernikahan kami.
Tapi sakitku karna teguranmu ini akan memutus segalanya....
Tuhan...
Aku melemah lagi.
Selasa, 03 Februari 2015
Aplikasi Kosong
Mungkin saat ini... genggaman tanganmu... isengnya jemarimu... atau tatapan matamu yang mampu membuat aku langsung tertidur nyenyak.
Bahkan... begitu banyak aplikasi untuk tuangkan rindu hanya membuatku semakin sesak karna merasa tak ada yang digunakan meringankan rindu ini padamu.
Andai bisa ulang waktu... setidaknya tak kubiarkan aplikasi ini kosong dari tatapan matamu.
???
Sebegini diamnya kah aku?
Sakit dan ketakutan yang aku tahan sendiri.
Sastra... aku membutuhkanmu berada menemani akhirku!!!
*meringis
Senin, 02 Februari 2015
:(
Tersentak aku seketika...
Seakan-akan tak percaya...
Airmata penyesalan mengalir deras...
Itupun tak bisa kembalikan dirimu....
Takut
Aku takut... sungguh.
Bayangan itu seperti menerkam ku dan membuat seluruh ototku mengeras.
Aku takut...
Minggu, 01 Februari 2015
Februarimu, bukan aku.
Hai....
Apa kabar? Aku ingin melirih, bolehkah?
Aku merindukanmu, itu lirihku yang teramat pelan yang mampu ku ucap.
Sini, kemarikan tanganmu.
Nah, bisa kau rasakan degup jantungku saat ini?
Itu selalu terjadi bahkan ketika aku mencoba melupakan.
Heiii... kenapa terdiam mematung?
Kemarilah, aku tau kau bebas dalam anganku malam ini ya meski itu akhirnya menyakiti diri.
Kemarilah, aku bisikkan sesuatu di telingamu...
AKU MENGINGINKANMU, ADI WISASTRA...
*tertunduk, menangis gila.