Dear, sudah lama ya aku ga nulis di blog, apa kabar e-diaryku? Semoga baik-baik saja, dan semoga masih selalu ada pembaca yang sengaja membuka kamu, sekedar ingin melihat apa yang aku publikasikan di kamu (caeellaah, kayak aktif ngeblog aja).
Oiya, kita kembali ke judul, GURU NAKAL, kenapa aku tertarik nulis tentang guru nakal, ya karna sekarang lagi santer di berbagai media tentang kelalaian guru yang membuat anak didiknya jadi berbuat diluar konteks pendidikan.
Guru Nakal, bukan kali ini saja menjadi hal yang hangat dibicarakan, tapi sudah menjadi hal yang selalu memprihatinkan bagi masyarakat umum.
Kenakalan itu bisa saja terjadi karena ada kesempatan dan karena si guru merasa sudah mendapat penghidupan yang layak sehingga tak perlu lagi bersusah payah memberikan ilmu terbaru yang berkarakter, ya iyalah, inovasi apapun yang dilakukan, gajinya juga segitu (Rata-rata jawabannya sih gitu).
Jadi guru sekarang, bukan karna panggilan hati tapi karna tunjangan profesi yang lumayan gede (SK bisa buat kreditt), itu juga tak terlepas dari perhatian dan penghargaan pemerintah kepada si guru, jadinya, yaaa gitu deeh.
Aku pernah menjadi seorang guru kontrak di daerahku, tak terlalu jauh dari ibukota kabupaten Sintang, kira-kira tiga jam perjalanan (musim kemarau) dan Semalaman kalau musim penghujan (huakakaka).
Mau ke sekolahku, harus melewati ratusan hektare kebun sawit, pinus dan karet. Anak-anak yang sekolah juga harus menempuh waktu satu jam untuk sampai ke sekolah, karena mereka kebanyakan berasal dari kampung sebelah.
Pertama kali aku mengajar, semangat untuk menunjukkan kalau aku guru yang bisa diandalkan sangatlah besar, tetapi rasa heran saat aku mulai mengajar lebih besar dari semangatku, bayangkan muridku yang berjumlah kurang dari 30 orang terdiri dari kelas 1-6 tak bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, sehingga mereka tak berani mebjawab pertanyaanku.
Yang membuat kepalaku semakin pusing, itu anak-anak ternyata tak pandai membaca juga (lengkaplah kestresanku), itu bukan tanpa alasan, guru yang mereka miliki kurang (kurang berdedikasi, maksudnya).
Ada dua guru PNS, satu kepsek yang punya kesibukan luar biasa sehingga dalam satu bulan paling hanya seminggu saja masuknya dan yang satu lagi tak masuk hingga hampir satu tahun, tapi gaji dapat, tunjangan daerah terpencil juga tak pernah telat diambil (yang lulus sekarang juga ada tuh, yang sudah dapat SK dari dua bulan lalu, belum mengajar hingga sekarang, makan gaji buta).
Sementara, yang rutin mengajar hanya dua orang dengan gaji 300ribu sebulan yaitu penjaga sekolah dan ibu gembala yang menjelma jadi guru buat anak-anak disana.
Sekolah awalnya sepi, kedatanganku membuat mereka semangat datang ke sekolah, yang awalnya jam 9 baru datang, sejak kedatanganku menjadi tepat waktu, jam 7 teng.
Kali ini, lagi-lagi menjadi kendala, aku harus menyesuaikan materi dengan alam (lagipula, bukunya terbitan tahun 89, aku sd sih masih pakai buku itu, tapi jelas itu sudah lama sangat). Guru disana tak ambil pusing, "tak apa, santai saja Yuli ngajarnya, biarlah mereka tak pandai baca, nanti juga mereka tak bakal melanjutkan ke smp, biar saja mereka dapat ijazah sd" ucap kepsek yang membuatku miris.
Tak berapa lama, aku pun mengundurkan diri, karna merasa beban yang bakal aku tanggung bakal lebih banyak dari guru pns, bayangkan, aku disuruh mengajar dari nol, mengurus administrasi sekolah, membuat program belajar yang menarik untuk anak didikku, dan alasan yang paling kuat adalah, aku disuruh menandatangani anggaran fiktif (Dana BOS).
Itu kenakalan guru yang aku hadapi secara langsung, makanya aku berani mengatakan hampir rata-rata (meskipun tak semua) guru yang nakal justru guru yang sudah mendapat gaji yang layak alias PNS.
Ada lagi, guru cabul, hehe, ini guru yang sulit nahan nafsunya (ga tau juga alasannya kenapa), atau mungkin karna anak kecil jaman sekarang udah pada genit seperti di film-film tak bermutu yang sering ditayangkan dan jadi konsumsi anak sehari-hari.
Kalau yang lagi heboh sekarang, pembullyan salah satu siswi di daerah Sumatera karna guru tak ada di dalam kelas, huakakak, percayalah, hampir setiap guru (Guru tanpa dedikasi dan yang kepseknya tak mengawasi dengan baik), jarang ada di kelas terlebih di jam istirahat.
Intinya, apapun jenis kenakalan guru, harus bisa diminimalisir dengan adanya pengawasan yang ketat baik dari pemerintah melalui Dinas Pendidikan, masyarakat maupun media. Peran media itu penting loh (pekerjaanku saat ini), hehe.
Oke, sampai disini dulu ya ngetiknya, semoga bahasannya tak membosankan dan semoga saja ada jalan keluar dari masalah pelik pendidikan yang kerap terjadi ini.
Dan semoga, kurikulum 2013 yang mendukung pendidikan berkarakter (walaupun dianggap sedikit gagal karena tak adanya buku) biaa membuat generasi masa depan kita menjadi lebih baik. (Aamin).
Sampai ketemu ditulisan singkat di e-diaryku ya.
Rabu, 15 Oktober 2014
Guru Nakal
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar