Ada begitu banyak kebohongan yang sudah aku jalani demi menjaga nama diri, keluarga dan menjaga nama baik kamu.
Ada begitu banyak juga kejujuran yang sering aku ungkapkan yang kini hanya membuatku terdiam.
Ya... semua tak berguna karna kebohongan demi kamu yang tak pernah kamu perhitungkan.
Sayang, pada akhirnya, kamu lah lelaki yang ku cintai dari awal hingga saat ini semakin membesar rasa yang kumiliki. Ku bohongi lelaki yang menyayangiku dalam kasarnya itu.
Dia luruhkan semuanya untuk aku, sementara aku luruhkan hampir semua yang ku punya hanya untuk menemui kamu.
Dia yang memakiku dengan sangat sembari airmatanya tak pernah putus mengalir, membenci aku yang menyakitinya berkali-kali karna rasa aku ke kamu yang begitu besar.
Sebuah kondisi yang saat itu tak dapat aku mengerti. Mungkin jika pukulan tak mendarat di tubuhku, aku benar-benar menganggap dia seperti dewa sementara aku manusia yang tak pernah tahu diri.
Setidaknya aku pahami, siapapun itu, pasti akan melakukan hal yang sama ketika merasa tak mampu menahan sakit. Ya... kamu pun begitu sayang, ingatkah kamu ketika derasnya pukulan itu mengenai kepala saya, mungkin kamu berharap dengan begitu saya bisa hilang ingatan, tidak sayang, sama sekali tidak, aku mengingatnya pada setiap kali denyutan kepalaku meningkat. (Continue)
Kamis, 22 Januari 2015
Sama Rasa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar