Tak menyenangkan kemarin. Kenapa? Kau jengah pada keluh kesahku?
Aku ini, Tuhan, kerap merindu pada hal yang tak mampu lagi membuat aku berlalu.
Aku ini, Tuhan, berjalan sendiri tanpa ada peduli lagi yang terselip di hati.
Aku ini apa, Tuhan???
Kerap menekukkan kaki demi harapan yang tlah sastra anggap basi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar